Senin, 22 Maret 2010

Artikel Amalgamasi

Dengan adanya proses amalgamasi pada suatu microcontinent yang tebentuk akibat adanya proses akrasi maka berbagai microcontinent atau benua-benua kecil yang sudah terbentuk tersebut akan bersatu atau bergabung untuk menjadi daerah yang lebih luas yang mana batasnya ditandai oleh proses/aktifitas tektonik atau suture tektonik.Untuk kasus proses amalgamasi yang terjadi di Sumatra kebanyakan merupakan proses amalgamasi basement pecretaceous(micro-plate) yang melandasi cekungan-cekungan tersier yang terjadi sekarng yang menyebabkan roll-back memanjang sampai ke India.Yang mana roll-back trsebut ada yang efektif dan ada yang tidak.Efektif tidaknya roll-back antara lain dikendalikan oleh pinggir continent dan jalur subduksi serta precollision structural gain yang ada termasuk oleh pola amalgamasi basement tersebut.

Penyebab utama suatu roll-back tidak efektif di Sumata lebih didasarkan oleh adanya keberadaan sesar Sumatra yang terjadi akibat rangsangan collision India.Yang mana sesar Sumatra ini mempunyai splay extention fracture yang mampu menggoyakan pola-pola Sticht atau pola jahitan akresi basement.Sedangkan collision terjadi ketika suatu microcontinent beamalgamasi ke kerak continent lain yang mengakibatkan berhentinya subduksi dan akhirnya akan mengangkat sebagian kerak oceanic yang terjepit sampai lepas dari akarnya dan terjepit pada ke dua terrane yang beradu melalui proses obduksi.

Mengacu seperti pada konsep teori terrane bahwa lempeng itu tersusun dari proses amalgamasi atau persatuan terrane sehingga wajar pulau Sumatra tersusun oleh sekitar 5-6 terrane mengingat dalam teori terrane tektonik tidak ada lempeng massa benua yang merupakan massa kerak tunggal.Yang mana amagamasi terrane ini banyak mempengaruhi fabric tektonik pada saat cekungan-cekungan tersier terbuka yang mana pola dan riftingnya mengikuti akresi terrane.

AKRESI

Berdasarkan konsep mengenai Akrasi ternyata suatu continent atau benua wilayahnya tidak selamanya tetap tapi bisa mengalami penambahan materi benuanya.Dengan adanya proses akrasi yang terjadi maka akan memunculkan mikrokontinent baru kepada continent karena akibat adanya gerak menumpu atau convergent dan gerak perubahan bentuk atau tansform sebagai misal yang diakibatkan karena gerakan baik tumbukan,penyatuan atau welding dan penyuturan(suturing).Sebenarnya adanya akresi hal ini justru akan menguntungkan mengingat akan bertambahnya materi suatu continent kea rah samudra.Tetapi tentunya hal itu dalam prosesnya bila sedang berlangsung dapat menimbulkan bencana alam seperti gempa karena pembentukan akresi sangat dipengaruhi oleh proses tektonik.

Adanya fenomena akresi di suatu tempat di dalam samudra dapat menyebabkan terbentuknya atau tumbuhnya mikrocontinent dikarenakan pembentukan pisma akresi di dasar laut dikontrol oleh aktifitas tektonik sesar-sesar naik(thrusting) yang mengakibatkan proses pengangkatan(uplifting).Yang mana proses ini adalah konsekuensi dari proses tumbukan antara segment continent yang menyebabkan bagian tepian lempeng daerah tumbukan tersebut mengalami pengangkatan.Biasanya proses ini umumnya terjadi di kawasan barat Indonesia yaitu di kasan Samudra Hindia.

Pisma akresi yang terbentuk akibat proses terseebut ada yang sampai naik ke pemukaan laut membentuk pulau-pulau prisma akresi seperti yang terjadi di lepas pantai Aceh yang mana adanya proses pengangkatn dan sesar naik yang terjadi di beberapa tempat seperti di Kep.Mentawai,Enggano,sampai Simelueu yang terangkat membentukk guguan pulau-pulau yang memanjang parallel terhadap arah zona subduksi,dan ada juga prisma akresi yang tidak sampai naik ke permukaan laut seperti yang terjadi di lepas pantai selatan pulau Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar